
Lorong Daxuexi
Dàxuéxí Xiàng
Sebuah masjid berusia 1.300 tahun dan sate sapi berlapis saus terbaik di kota, tersembunyi di sebuah lorong sederhana di balik Kawasan Muslim.
Masuk
Gratis
Jam buka
Sen–Min · lane open 24h; mosque roughly 8:00
Waktu
45 menit–1½ jam
Metro
Jalur 6 · Guangji
Lorong Daxuexi (大学习巷, Dàxuéxí Xiàng — “Lorong Belajar Agung”) adalah Kawasan Muslim tanpa lapisan turis: lorong hidup yang dipenuhi kedai panggang dan tukang cukur, dengan masjid tertua di Xi'an—menurut prasasti di dalamnya, didirikan pada 705 M—di pertengahan jalan. Jangan mengharapkan halaman terawat seperti Masjid Agung, atau bahasa Inggris; daya tariknya ada pada masjid lingkungan yang masih dipakai sehari-hari dan sate yang membuat warga lokal rela antre. Layak disinggahi bila kawasan yang dipernis itu terasa kurang menarik bagi Anda.
Apa yang Anda lihat
Nama lorong ini adalah secarik kenangan dari dinasti Tang: menurut legenda, para duta dan pelajar asing dari wilayah barat pernah ditempatkan di sini untuk mempelajari tata krama istana Tang—harfiahnya, untuk “belajar”. Komunitas itu menetap, dan sejak itu lorong ini menjadi pemukiman Muslim.
Di pertengahan lorong, di balik gerbang sederhana, berdiri Masjid Lorong Daxuexi (大学习巷清真寺)—bagi warga lokal ini “Masjid Agung Barat”. Prasasti batu di dalamnya mencatat pendirian pada 705 M, yang bila benar berarti lebih tua daripada Masjid Agung di seberang kawasan, dan menjadikannya masjid tertua di Xi'an. Laksamana Zheng He—sendiri seorang Muslim—dikabulkan membiayai pembangunan kembali pada 1413. Secara arsitektur, ia memperlihatkan trik klasik masjid Tiongkok: balai kayu beratap genteng dan halaman berporos simetris yang sekilas tampak seperti murni kuil—hanya saja di tempat balai Buddha menggantung aksara Sanskerta tergantung kaligrafi Arab, dan ruang salat menghadap ke barat, bukan selatan.
Di sekitarnya, lorong melakukan apa yang dilakukan lorong-lorong Hui: memberi makan orang. Lorong Daxuexi dikenal di kalangan warga lokal untuk 酱汁烤肉 (jiàngzhī kǎoròu)—sate daging sapi dan urat yang diolesi saus asin kental pekat, bukan sekadar jintan dan cabai, lalu dimakan bersama roti pipih (mo). Untuk kisah seribu tahun komunitas ini, baca suku Hui di Xi'an.
Strategi berkunjung
Datanglah menjelang sore dan tinggallah sampai malam. Kunjungi masjid di sela waktu salat (sekitar pukul 3 sore adalah jendela yang aman), lalu makan saat bara menyala sekitar pukul 18:00.
Etika masjid: ini adalah jemaah aktif, bukan tempat berbayar—masuk gratis dan pengunjung umumnya diterima di halaman di luar waktu salat. Tutuplah bahu dan lutut, jangan masuk ruang salat selama ibadah, jangan memotret orang yang sedang salat, dan tanyakan izin sebelum memasuki ruang dalam balai mana pun. Pada Jumat tengah hari, sebaiknya lewati saja seluruh kunjungan.
Makan: sate dipesan per genggam dan dihargai per tusuk—tunjuklah apa yang dimakan meja sebelah. Sebuah makan malam sate saus dengan roti pipih dan minuman plum asam sekitar ¥40 per orang.
Padukan dengan: Kuil Dewa Kota berjarak lima menit ke timur di Jalan Barat—sebuah diptik Tao-ke-Muslim yang mudah—dan jalan kuliner Sajinqiao berjarak sepuluh menit berjalan kaki ke utara.
Cara ke sana
Lorong ini membentang ke utara dari Jalan Barat (西大街), tepat di sebelah barat persimpangan Guangji, jauh di dalam sudut barat daya Kawasan Muslim.
- Metro: Jalur 6 ke stasiun Guangji (广济街), lalu jalan kaki sekitar 5 menit ke barat sepanjang Jalan Barat sampai ke mulut lorong.
- Berjalan kaki: kira-kira 12 menit ke barat daya dari Menara Lonceng.
- Taksi/DiDi: minta diantar ke mulut lorong di Jalan Barat—pengemudi mengenal 大学习巷口. Di bawah ¥15 dari mana pun di dalam tembok.
Catatan praktis
- Biaya: gratis—baik lorong maupun Masjid Lorong Daxuexi.
- Bahasa: tak ada rambu bahasa Inggris, tak ada menu bahasa Inggris. Menunjuk dengan jari cukup ampuh; panduan memesan makanan kami membahas beragam isyarat.
- Halal: seluruh lorong ini halal—tanpa daging babi, dan membawa bir dari luar dianggap kurang sopan. Selengkapnya ada di panduan halal.
- Penerangan: setelah gelap lorong redup dan skuter berseliweran; perhatikan langkah Anda dan awasi anak-anak.
- Fotografi: bebas di jalanan dan di halaman masjid; tidak boleh saat salat.
Pertanyaan, terjawab
Bolehkah non-Muslim mengunjungi Masjid Lorong Daxuexi?
Boleh—masuk gratis dan pengunjung diterima di halaman di luar waktu salat dengan berpakaian sopan. Ruang salat sendiri diperuntukkan bagi jemaah; jangan masuk selama ibadah dan jangan memotret orang yang sedang salat. Pada Jumat tengah hari, sebaiknya lewati saja kunjungan ini.
Apa bedanya dengan Masjid Agung?
Masjid Agung lebih megah—halaman bertaman berpagar tembok, tiket masuk, rombongan tur. Masjid Lorong Daxuexi menurut tahun pendirian (705 M) lebih tua, lebih kecil, gratis, dan berfungsi sebagai masjid lingkungan murni. Kunjungilah keduanya; keduanya berjarak hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki.
Makanan apa yang membuat Lorong Daxuexi terkenal?
Sate panggang berlapis saus (酱汁烤肉)—daging sapi dan urat yang diolesi saus asin pekat, alih-alih taburan jintan-cabai biasa, dilipat dalam roti pipih. Beberapa kedai panggang tua di lorong ini memiliki pelanggan lokal yang setia.
Mengapa dinamai “Lorong Belajar Agung”?
Menurut legenda, Chang'an dinasti Tang menempatkan duta dan pelajar asing di sini untuk mempelajari tata krama istana—“belajar agung”. Komunitas Muslim yang tumbuh dari para pendatang wilayah barat itu tak pernah pergi, dan nama ini bertahan selama 1.300 tahun.
Terus jelajahi

Tembok Kota Xi'an
Sebuah persegi panjang dari dinasti Ming sepanjang 14 km yang bisa Anda sepeda di puncaknya — berusia 650 tahun dan masih menjadi rute komuter favorit kota.
Selengkapnya →

Kawasan Muslim
Mengenyangkan Xi'an sejak tahun 700-an — lorong-lorong paling riuh, paling berasap, dan paling harum dari komunitas suku Hui.
Selengkapnya →

Menara Lonceng Xi'an
Menara lonceng dari dinasti Ming tahun 1384 ini berdiri persis di pusat kota tua yang dilingkungi tembok — dan paling memukau saat senja, ketika ia menyala terang di atas bundaran.
Selengkapnya →
Cerita terkait
Menikmati kuliner halal di Xi'an
Di sebagian besar kota Tiongkok, wisatawan Muslim harus mencari restoran satu per satu. Di Xi'an, Anda cukup memilih satu kawasan: komunitas Muslim Hui telah memasak di sini sejak dinasti Tang, seluruh kawasan besar di belakang Menara Bedug sama sekali tak menjual daging babi, dan beberapa hidangan khas kota ini memang halal sejak lahir. Panduan ini mengajari Anda membaca label, tahu apa yang harus dimakan, dan hal-hal yang perlu diwaspadai di luar kawasan tersebut.
