VISITXIAN
On top of Xi'an's Ming city wall
Sejarah & budaya

Sejarah singkat Xi'an (Chang'an)

Bagaimana Xi'an (Chang'an) menjadi akar Tiongkok — ibu kota kuno tempat kekaisaran terpadu pertama lahir, tumbuh menjadi kota terbesar di dunia, lalu kehilangan takhta — dan di mana melihat setiap bab hari ini.

Photo by Ideophagous, via Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0
01

Banpo: enam ribu tahun sebelum kaisar

Jauh sebelum ada kaisar pun, orang sudah hidup sejahtera di sini. Sekitar 6.000 tahun lalu, sebuah desa pertanian budaya Yangshao (仰韶, Yǎngsháo) berdiri di Banpo (半坡, Bànpō), di pinggiran timur Xi'an masa kini. Penduduknya menanam jewawut, memelihara babi, berburu dengan panah, dan membakar tembikar lukis — mangkuk merah bergambar ikan dan wajah manusia, kini ikon prasejarah Tiongkok. Desa itu dikelilingi parit pertahanan, dan tata letaknya sering dibaca sebagai komunitas matrilineal. Banpo diam-diam mengingatkan: kisah Xi'an tidak dimulai dari Qin Shi Huang, melainkan dari para petani yang memilih dataran yang tepat.

02

Zhou: raja-raja di Sungai Feng

Dinasti besar pertama yang memerintah dari dataran ini adalah Zhou (周, Zhōu, s. 1046–256 SM). Ibu kota kembar mereka Fenghao (丰镐, Fēnghào) berdiri di kedua tepi Sungai Feng, tepat di sebelah barat kota masa kini, dan dari sana raja-raja Zhou awal menjalankan negara berbasis ritual yang bejana perunggunya masih menjadi inti koleksi museum-museum Tiongkok. Geografi menjelaskan pilihan itu. Dataran Guanzhong (关中, Guānzhōng) — lembah Sungai Wei yang dikelilingi pegunungan dan dihubungkan oleh segelintir jalur pegunungan — subur, mudah dipertahankan, dan dekat dengan perbatasan barat. Setiap dinasti sesudahnya yang menjadikan Xi'an ibu kota membeli tanah yang sama.

03

Qin: penyatuan dan Kaisar Pertama

Qin (秦, Qín) adalah negara perbatasan di tepi barat dataran, lebih tangguh dan lebih kejam daripada saingannya. Pada 221 SM rajanya, Ying Zheng (嬴政, Yíng Zhèng), menaklukkan lawan terakhir dan menyatakan diri sebagai Qin Shi Huang (秦始皇, Qín Shǐhuáng) — Kaisar Pertama. Dalam tak sampai satu dekade memerintah, ia menyeragamkan aksara, mata uang, takaran dan timbangan, bahkan lebar as gandar kereta, dan membentang jalan raya imperium yang lurus dari ibu kota Xianyang (咸阳, Xiányáng) — seberang sungai dari Xi'an masa kini. Ia juga mengerahkan ratusan ribu buruh untuk membangun makamnya beserta Pasukan Terakota. Dinasti itu runtuh tiga tahun setelah ia wafat pada 210 SM. Cetak biru yang ia rakit — satu Tiongkok, satu aksara, satu administrasi — bertahan dua ribu tahun.

04

Chang'an Han dan Jalur Sutra

Han (汉, Hàn, 202 SM–220 M) membangun ibu kota baru di tenggara pusat kota masa kini dan menamainya Chang'an (长安, Cháng'ān) — "Perdamaian Abadi". Kota itu tumbuh menjadi salah satu yang terbesar di Bumi, dan di bawah Kaisar Wu dari Han (汉武帝, Hàn Wǔdì) menjadi titik tolak jaringan dagang paling termasyhur dalam sejarah. Pada 138 SM sang kaisar mengirim seorang utusan bernama Zhang Qian (张骞, Zhāng Qiān) ke barat mencari sekutu melawan suku pengembara Xiongnu (匈奴, Xiōngnú). Ia kembali tiga belas tahun kemudian tanpa persekutuan, tetapi membawa laporan rinci tentang Asia Tengah — dan misi-misi, garnisun, serta karavan yang menyusul kemudian menjadi Jalur Sutra. Sutra mengalir ke barat; kuda, anggur, kaca, dan akhirnya Buddhisme datang ke timur, melalui gerbang Chang'an.

05

Chang'an Tang: kota terbesar di Bumi

Usai berabad-abad perpecahan, Sui (隋, Suí) menyatukan kembali Tiongkok dan pada 582 merancang sebuah ibu kota terencana raksasa di dataran itu — papan catur sempurna dari kawasan berbenteng. Tang (唐, Táng, 618–907) mewarisinya, memulihkan nama Chang'an, dan memimpin masa keemasannya. Pada puncaknya, sekitar satu juta orang tinggal di dalam tembok sepanjang kira-kira 36 km — hampir pasti kota terbesar di dunia, dan jelas yang paling kosmopolitan. Pedagang Sogdia mengelola Pasar Barat, tempat perak Persia beredar; pangeran Turk, biksu Jepang, dan mahasiswa Korea berjejal di kawasan-kawasan itu; kuil Zoroastrisme, Kristen Nestorian, dan Manikeisme berdampingan dengan wihara Buddha. Biksu Xuanzang (玄奘, Xuánzàng) kembali dari India membawa ratusan sutra, dan Pagoda Angsa Liar Besar dibangun untuk menyimpannya. Keluarga kekaisaran memiliki pertapaan mata air panas di Istana Huaqing, panggung kisah cinta kekaisaran yang paling banyak diceritakan ulang di Tiongkok — Kaisar Xuanzong dan Yang Guifei (杨贵妃, Yáng Guìfēi).

06

Kemunduran, tembok Dinasti Ming, dan kota modern

Akhirnya kelam. Pemberontakan An Lushan (755–763) menghancurkan kekuatan Tang, dan di dasawarsa terakhir dinasti itu Chang'an dijarah lebih dari sekali. Saat Tang jatuh pada 907, ibu kota pindah ke timur — dan tak pernah kembali. Selama seribu tahun berikutnya Xi'an hanya menjadi kota regional besar, bukan pusat dunia. Monumen yang paling mencolok justru berasal dari masa senja panjang itu: Tembok Kota yang Anda lihat hari ini dibangun oleh Ming (明, Míng) pada 1370-an, melingkari kota yang jauh lebih kecil di sekitar Menara Lonceng. Dinasti Ming pula memberinya nama yang kini — Xi'an, "Perdamaian Barat". Lalu, pada 1974, petani di Lintong (临潼, Líntóng) yang terkena kekeringan menggali sumur dan menabrak sebuah kepala terakota, dan Xi'an modern menemukan kehidupan keduanya: tempat dunia datang menemui Tiongkok kuno.

07

Di mana melihat sejarah ini hari ini

  • Banpo zaman neolitik: Museum Banpo, di sebelah timur pusat kota — desa yang digali di lokasinya (metro Jalur 1 ke Banpo; belum ada halaman khusus di situs ini).
  • Qin sang Kaisar Pertama: Pasukan Terakota — pasukan bawah tanah dari dasawarsa penyatuan itu.
  • Kejayaan Han dan Tang: Museum Sejarah Shaanxi, ikhtisar terbaik dari semua di atas (gratis, tetapi pesan slot waktu lebih dulu; belum ada halaman khusus).
  • Cinta Tang: Istana Huaqing, pertapaan mata air panas kekaisaran di kaki Gunung Li.
  • Warisan yang masih hidup dari Jalur Sutra: Kawasan Muslim, yang berakar pada para pedagang yang dibawa karavan — kisah yang lebih dalam ada di Xi'an dan Jalur Sutra.
  • Kota Dinasti Ming: Tembok Kota itu sendiri, paling indah dilihat dari sepeda di atasnya.
  • Lanskap Guanzhong: Gunung Hua, puncak granit suci yang menghadap ke arah dataran itu di sebelah timur.
?

Pertanyaan, terjawab

Berapa banyak dinasti yang menjadikan Xi'an ibu kota?

Hitungan tradisional adalah tiga belas, itulah sebabnya Anda melihat Xi'an disebut ibu kota “tiga belas dinasti”. Angka pastinya tergantung cara menilai rezim berumur pendek, tetapi yang utama adalah Zhou Barat, Qin, Han Barat, Sui, dan Tang.

Disebut apa Xi'an dahulu?

Selama sebagian besar sejarah kekaisaran ia bernama Chang'an (长安, Cháng'ān), biasanya diterjemahkan “Perdamaian Abadi”. Di bawah Qin ibu kotanya adalah Xianyang, seberang sungai; ibu kota Zhou Barat, Fenghao, berdiri tak jauh di sebelah barat. Dinasti Ming mengganti nama kota menjadi Xi'an — “Perdamaian Barat” — pada 1369.

Benarkah Jalur Sutra dimulai dari Xi'an?

Ya — di bawah Han dan Tang, Chang'an adalah jangkar timur jaringan jalur itu: kota tempat barang yang dikirim dari Tiongkok dikumpulkan dan barang yang tiba dibongkar. Kisah lengkapnya ada di artikel kami, “Xi'an dan Jalur Sutra”.

Mengapa Xi'an bukan lagi ibu kota Tiongkok?

Setelah Tang jatuh pada 907, tak ada dinasti yang memindahkan ibu kota kembali. Dataran Guanzhong sudah kelelahan secara lingkungan usai berabad-abad penebangan; mengangkut gandum ke barat menaiki Sungai Kuning teramat mahal; dan pusat gravitasi ekonomi Tiongkok telah bergeser ke tenggara. Ibu kota-ibu kota sesudahnya bergerombol di timur: Luoyang, Kaifeng, Nanjing, dan Beijing.

Tempat dalam kisah ini