VISITXIAN
Stone steles in Xi'an's Beilin Museum
Sejarah & budaya

Kota Tiga Belas Dinasti: Kronologi Sejarah Xi'an sebagai Ibukota

Satu dataran, tiga belas rezim, lebih dari seribu tahun sebagai ibu kota kuno Tiongkok — akar tempat Tiongkok terpadu bertumbuh. Linimasa mudah dipindai dari setiap dinasti yang menjadikan Chang'an atau Xi'an sebagai ibu kotanya.

Photo by Gary Todd from Xinzheng, China, via Wikimedia Commons · CC0
01

Dari Mana Angka Itu Didapat

Slogan promosi resmi Xi'an adalah "Kota Tiga Belas Dinasti" (shísān cháo gǔdū), dan daftar ini benar — dengan satu catatan jujur: angkanya bergantung pada apakah Anda memasukkan dua masa "pindah kembali" yang singkat dan penuh gejolak (yakni sisipan Han Timur dan Jin Barat di bawah; daftar baku memasukkannya). Ketiga belas dinasti yang umum dimaksud, berdasarkan urutan, adalah: Zhou Barat, Qin, Han Barat, Xin, Han Timur, Jin Barat, Zhao Awal, Qin Awal, Qin Akhir, Wei Barat, Zhou Utara, Sui, dan Tang. Jika tahun-tahun kekuasaannya dijumlahkan, dataran ini telah menjadi ibu kota Tiongkok selama sekitar 1.100 tahun — lebih lama daripada tempat mana pun di Tiongkok. Sebabnya adalah letak: Dataran Guanzhong (关中, Guānzhōng), tanah subur yang dilingkari pegunungan dan disubur oleh Sungai Wei, hanya terhubung dengan dunia luar melalui beberapa celah pegunungan yang mudah dipertahankan. Setiap rezim berikut ini pada dasarnya membeli benteng yang sama. Untuk narasi lengkap, baca sejarah singkat Xi'an; berikut adalah versi referensi cepat.

02

Zhou Barat (sekitar 1046–771 SM): Ibu Kota Kembar Feng dan Hao

Dinasti Zhou (周, Zhōu) menggulingkan Dinasti Shang sekitar tahun 1046 SM dan memerintah dari ibu kota kembar di tepi barat Sungai Feng (沣河, Fēnghé) — di sebelah barat Xi'an saat ini: Feng, yang didirikan oleh Raja Wen (周文王, Zhōu Wénwáng), dan Hao, yang dibangun oleh putranya, Raja Wu. Bersama-sama disebut Fenghao (丰镐, Fēnghào), keduanya menopang sebuah negara berperadaban yang bejana ritual perunggunya — tiga ribu tahun kemudian — masih menjadi tulang punggung koleksi museum. Pada 771 SM, suku Quanrong (犬戎, Quǎnróng) menyerbu Hao dan membunuh raja Zhou; keluarga kerajaan mundur ke timur ke Luoyang, dan "Zhou Barat" menjadi "Zhou Timur". Di mana melihatnya hari ini: tidak ada reruntuhan utuh yang tersisa, tetapi perunggu-perunggu periode Zhou memenuhi ruang pamer pembuka di Museum Sejarah Shaanxi.

03

Qin (350–207 SM): Xianyang

Dinasti Qin (秦, Qín) memindahkan ibu kotanya pada 350 SM ke Xianyang (咸阳, Xiányáng) di tepi utara Sungai Wei (渭河, Wèihé) — dan dari sini menelan satu per satu enam negara saingan, hingga pada 221 SM rajanya menjadi Shi Huangdi (Kaisar Pertama) Tiongkok yang bersatu. Dinasti yang disatukan itu hanya bertahan lima belas tahun, tetapi ia merancang Tiongkok kekaisaran: satu aksara, satu mata uang, satu sistem administrasi. "Warisan pascawafatnya" adalah objek wisata Xi'an yang paling ramai dikunjungi. Di mana melihatnya hari ini: Pasukan Terakota di Lintong, seberang Sungai Wei — kisah lengkapnya ada di Kisah Qin Shi Huang dan Pasukan Terakota.

04

Han Barat (202 SM – 9 M): Lahirnya Chang'an

Dinasti Han (汉, Hàn) membangun ibu kota baru di tenggara Xianyang dan menamainya Chang'an (长安, Cháng'ān) — "perdamaian abadi". Di bawah Kaisar Wu dari Han (汉武帝, Hàn Wǔdì), kota ini menjadi salah satu kota terbesar di muka Bumi saat itu, serta titik awal Jalur Sutra: pada 138 SM, misi ke barat yang dipimpin Zhang Qian berangkat dari sini. Kota Han terletak di barat laut pusat kota saat ini, dan reruntuhan tanah padat Istana Weiyang (未央宫, Wèiyánggōng)-nya masih berdiri di pinggiran kota hingga kini. Di mana melihatnya hari ini: Hanyangling, makam bersama Kaisar Jing dari Han (汉景帝, Hàn Jǐngdì) — ayah Kaisar Wu — dan permaisurinya, separuh museum dan separuh lagi penggalian arkeologi yang masih berlangsung.

05

Xin (9–23 M): Pembaharuan Wang Mang

Pada tahun 9 M, sang wali penguasa Wang Mang (王莽, Wáng Mǎng) menduduki takhta sendiri, mendeklarasikan Dinasti Xin (新, Xīn, "baru"), tetap dengan Chang'an sebagai ibu kota — seraya mengganti mata uang, kalender, sistem jabatan, dan banyak hal lain. Reformasinya yang berdalih pada masa lampau itu radikal namun tidak realistis, dan dilanda banjir serta kelaparan. Pada 23 M, pemberontak memasuki Chang'an, membunuh Wang Mang, dan membakar istana. Dinasti Han yang dipulihkan tidak kembali — ia membangun ulang di Luoyang dan menjadi "Han Timur".

06

Han Timur (190–195): Istana Diseret Kembali ke Chang'an

Han Timur (东汉, Dōnghàn) beribu kota di Luoyang — sampai 190, ketika panglima perang Dong Zhuo (董卓, Dǒng Zhuó) membakar Luoyang dan menyeret kaisar cilik, Kaisar Xian (汉献帝, Hàn Xiàndì), kembali ke Chang'an agar berada dalam cengkeramannya. Dong Zhuo dibunuh pada 192, dan para anak buahnya kemudian saling membunuh demi memperebutkan kaisar di tengah kota yang hancur dan kelaparan. Pada 195 istana melarikan diri ke timur, dan keluarga Han merosot menjadi wayang para panglima perang. Ia dihitung sebagai salah satu dari tiga belas dinasti — meski baru lolos tipis.

07

Jin Barat (313–316): Pertempuran Terakhir Sang Kaisar Muda

Setelah Luoyang jatuh ke tangan pemberontak pada 311, Dinasti Jin Barat (西晋, Xījìn) sebenarnya telah berakhir di utara — namun pada 313, seorang pangeran muda dinobatkan menjadi kaisar di tengah reruntuhan Chang'an. Kaisar Min dari Jin (晋愍帝, Jìn Mǐndì) mempertahankan kota yang hancur selama tiga tahun, sebelum menyerah pada 316 kepada rezim Han-Zhao yang dipimpin suku Xiongnu. Dinasti itu dibangun ulang di selatan — Nanjing saat ini. Masa Chang'an yang kedua sebagai ibu kota — kali ini singkat — pun berakhir di situ.

08

Zhao Awal (319–329)

Penguasa Han-Zhao Liu Yao (刘曜, Liú Yào) memindahkan ibu kota ke Chang'an pada 319 dan mengganti nama negaranya menjadi (Awal) Zhao (前赵, Qiánzhào) — sebuah rezim keturunan Xiongnu di tengah kekacauan Enam Belas Kerajaan. Ia hanya bertahan sepuluh tahun; pada 329 direbut oleh rivalnya, Zhao Akhir. Nyaris tidak ada peninggalan yang tersisa hari ini, tetapi ia menetapkan satu pola: selama dua setengah abad berikutnya, setiap rezim utara yang kuat memilih dataran ini.

09

Qin Awal (351–385): Penyatuan yang Gagal di Sebuah Sungai

Qin Awal (前秦, Qiánqín) dari suku Di (氐, Dī) merebut Chang'an pada 351. Di bawah penguasanya Fu Jian (苻坚, Fú Jiān) dan penasihat beretnis Han Wang Meng (王猛, Wáng Měng), pada 376 seluruh utara telah disatukan — lalu datang langkah nekat: pada 383, Fu Jian memimpin pasukan raksasa ke selatan untuk merampungkan penyatuan, tetapi gugur telak dalam Pertempuran Sungai Fei (淝水, Féishuǐ). Kekaisaran runtuh dalam semalam, Chang'an jatuh pada 385, dan pada tahun yang sama Fu Jian terbunuh. Orang Tiongkok hingga kini masih mengutip perkataan congkahnya — bahwa lemparan cambuk pasukannya saja cukup untuk membendung sungai — sebagai peringatan akan bahaya kesombongan militer.

10

Qin Akhir (384–417): Proyek Penerjemahan Buddha Terbesar

Kepala suku Qiang (羌, Qiāng) Yao Chang (姚苌, Yáo Cháng) mendirikan Qin Akhir (后秦, Hòuqín) pada 384, merebut Chang'an tahun berikutnya, dan memerintah dari sana selama tiga puluh tahun. Penguasa keduanya, Yao Xing (姚兴, Yáo Xīng), seorang Buddhis taat, memboyong bhikkhu dari Kucha, Kumarajiva (鸠摩罗什, Jiūmóluóshí), ke Chang'an pada 401 dan mendanai biro penerjemahannya — terjemahan Kumarajiva hingga kini merupakan versi yang dilafalkan dalam Buddhisme Tionghoa. Pada 417, pasukan Jin Timur merebut Chang'an, dan Qin Akhir runtuh.

11

Wei Barat (535–557): Sang Jenderal di Balik Layar

Setelah Wei Utara terbelah dua, panglima perang Yuwen Tai (宇文泰, Yǔwén Tài) menobatkan kaisar boneka di Chang'an dan sendiri memegang kendali Wei Barat (西魏, Xīwèi). Menghadapi keunggulan jumlah dari timur yang lebih makmur, ia menciptakan tipe pasukan baru — sistem fubing (府兵, fǔbīng) — beserta kasta militer perpaduan suku Xianbei dan Han yang dijuluki Kelompok Guanlong. Hasilnya ampuh: kasta elit militer inilah yang sekaligus melahirkan keluarga pendiri Sui dan Tang. Sejarah Tiongkok untuk tiga abad berikutnya, dalam artian tertentu, merupakan rencana suksesi Yuwen Tai.

12

Zhou Utara (557–581): Utara Disatukan Kembali

Pada 557, penerus Yuwen Tai resmi menyandang gelar kaisar dan mendirikan Zhou Utara (北周, Běizhōu), tetap dengan Chang'an sebagai ibu kota. Kaisar Wu dari Zhou Utara menaklukkan saingannya, Qi Utara, pada 577 dan menyatukan kembali utara — sementara adegan paling ternama dalam sejarah dinasti ini adalah pelarangan agama Buddha di wilayahnya pada 574–577: arca Buddha dilebur dan para bhikkhu-bhikkhuni dipaksa kembali ke kehidupan duniawi. Setelah ia wafat muda, jenderalnya Yang Jian (杨坚, Yáng Jiān) dengan mudah menggeser kaisar bocah pada 581 dan mendirikan Dinasti Sui. Ibu kotanya tetap di tempat — selama dua tahun lagi.

13

Sui (581–618): Daxing, Kisi-kisi yang Baru

Yang Jian — Kaisar Wen dari Sui (隋文帝, Suí Wéndì) — menyatukan seluruh Tiongkok pada 589 dan memutuskan bahwa kota Han lama telah terlalu usang. Pada 582, insinyurnya Yuwen Kai (宇文恺, Yǔwén Kǎi) mulai membangun di lahan baru di tenggara sebuah ibu kota terencana berskala raksasa: Daxing (大兴, Dàxīng), sebuah kisi-kisi bujur sangkar tertutup berisi 108 distrik (fang), yang rampung dalam waktu kurang dari dua tahun. Lalu Sui (隋, Suí) menggali Canal Besar dan menggerakkan pasukan ke Semenanjung Korea, hingga akhirnya menjatuhkan kekaisarannya sendiri — dinasti ini hanya bertahan 37 tahun. Namun cetak biru kotanya masih ada di bawah kaki Anda: Xi'an modern tumbuh di atas tata ruang Sui-Tang, di tenggara reruntuhan kota Han.

14

Tang (618–907): Zaman Keemasan

Tang (唐, Táng) mengambil alih Daxing, memulihkan nama Chang'an, dan memimpin zaman keemasan kota ini — dan bisa dibilang seluruh Tiongkok: sejuta jiwa berdiam di dalam tembok kota, perak orang Sogdia beredar di Pasar Barat, Li Bai dan Du Fu melenggang di kedai anggur, dan gulungan kitab Xuanzang tersimpan di Pagoda Angsa Liar Besar. Pemberontakan An Lushan (755) meremukkan tulang punggung dinasti, pasukan Huang Chao menjarah Chang'an pada 881, lalu pada 904 panglima perang Zhu Wen memaksa istana pindah ke Luoyang dan membongkar istananya untuk dijadikan kayu. Chang'an tak pernah lagi disinggahi seorang kaisar pun. Era ini dibahas khusus dalam Chang'an era Tang. Di mana melihatnya hari ini: Pagoda Angsa Liar Besar dan Pagoda Angsa Liar Kecil, Taman Reruntuhan Istana Daming, serta Museum Hutan Prasasti Xi'an.

15

Setelah 907: Ibu Kota Barat Hanya Nama

Rezim Lima Dinasti yang mengikuti — dimulai dari Liang Akhir (后梁, Hòuliáng, 907–923) milik Zhu Wen sendiri — semuanya beribu kota di Kaifeng dan Luoyang. Chang'an yang menyusut berganti nama beberapa kali, mempertahankan seorang pejabat pengawas, dan sesekali menyandang gelar kehormatan "Ibu Kota Barat", tetapi tak ada lagi istana yang kembali. Tokoh utama babak kedua kota ini adalah Dinasti Ming (明, Míng): pada 1369 istana Ming mengganti namanya menjadi Xi'an — "kedamaian di barat" — dan antara 1370 dan 1380-an mendirikan Tembok Kota serta Menara Lonceng yang Anda lihat hari ini. Pada Desember 1936, kota ini menghiasi pemberitaan dunia lewat Insiden Xi'an (西安事变, Xī'ān Shìbiàn): Jenderal Zhang Xueliang (张学良, Zhāng Xuéliáng) menahan Chiang Kai-shek (蒋介石, Jiǎng Jièshí) di Istana Huaqing untuk memaksanya melawan Jepang dan membentuk front bersatu. Pada 1974, para penggali sumur di Lintong menemukan Pasukan Terakota — sejak itu, ibu kota kuno ini berubah menjadi destinasi wisata modern.

16

Di Mana Melihat Semua Ini Hari Ini

?

Pertanyaan, terjawab

Dinasti mana sajakah yang sebenarnya beribu kota di Xi'an?

Daftar bakunya adalah: Zhou Barat, Qin, Han Barat, Xin, Han Timur (singkat, 190–195), Jin Barat (singkat, 313–316), Zhao Awal, Qin Awal, Qin Akhir, Wei Barat, Zhou Utara, Sui, dan Tang. Berbagai perhitungan menangani kedua kekosongan singkat ini secara berbeda, tetapi tiga belas adalah angka yang disepakati.

Berapa lama Xi'an menjadi ibu kota Tiongkok?

Total sekitar 1.100 tahun, membentang selama tiga milenium — dari pendirian Fenghao oleh Zhou Barat sekitar 1046 SM hingga dipaksakanya istana Tang pindah pada 904. Ini lebih lama daripada kota mana pun di Tiongkok sebagai ibu kota.

Mengapa begitu banyak dinasti memilih Xi'an?

Letak. Dataran Guanzhong adalah tanah subur di tepi Sungai Wei yang dilingkari pegunungan dan dijaga oleh beberapa celah sempit — mudah dipertahankan, sulit direbut, jarang dilanda kelaparan, serta dekat dengan perbatasan barat yang wajib diawasi setiap dinasti. Selama lebih dari seribu tahun, berbagai rezim membeli benteng yang sama.

Kapan Xi'an berhenti menjadi ibu kota Tiongkok?

Pada 904, panglima perang Zhu Wen memaksa istana Tang pindah ke Luoyang dan membongkar istana Chang'an; dinasti Tang sendiri runtuh pada 907. Tidak ada dinasti yang kembali sesudahnya — pusat ekonomi Tiongkok telah bergeser ke timur, dan ibu kota-ibu kota kemudian terkonsentrasi di timur: Kaifeng, Nanjing, Beijing.

Ibu kota manakah yang paling awal di Xi'an?

Fenghao — ibu kota kembar Feng dan Hao dari Zhou Barat di tepi Sungai Feng, didirikan sekitar 1046 SM. Disusul Xianyang dari Qin di tepi utara Sungai Wei (350 SM), Chang'an dari Han (202 SM), dan terakhir kota Chang'an Sui-Tang (582 M), yang tata ruangnya masih dipakai Xi'an modern hingga hari ini.

Tempat dalam kisah ini

Shaanxi History Museum, Xi'an
Wajib lihat

Museum Sejarah Shaanxi

Perunggu Zhou, emas Han, harta Tang — sejarah Xi'an yang berlapis-lapis, terhimpun dalam satu museum.

Selengkapnya →

Terracotta warriors standing in the excavation pit, Xi'an
Wajib lihat

Pasukan Terakota

Delapan ribu prajurit seukuran manusia yang dimakamkan untuk menjaga kaisar pertama Tiongkok — 2.200 tahun kemudian, mereka masih berdiri dalam formasi penjagaan.

Selengkapnya →

Half-sized Han dynasty tomb figures in the excavation pits, Hanyangling
Sepadan

Hanyangling (Museum Makam Kaisar Jing dinasti Han)

Sebuah “balai kekaisaran bawah tanah” milik seorang kaisar dinasti Han, mulai dibangun 153 SM — patung tanah liat berukuran setengah dari manusia asli di bawah lantai kaca, tanpa keramaian.

Selengkapnya →

Big Wild Goose Pagoda against the sky, Xi'an
Wajib lihat

Pagoda Angsa Liar Besar

Pagoda bata dari dinasti Tang yang didirikan pada 652 M untuk mengenang perjalanan tujuh belas tahun Xuanzang mengambil kitab suci di India — hingga kini tetap menjadi lambang Xi'an.

Selengkapnya →

The Small Wild Goose Pagoda, a slender Tang-dynasty brick pagoda rising over courtyard trees in Xi'an
Sepadan

Pagoda Angsa Liar Kecil & Museum Xi'an

Pagoda dinasti Tang yang dibangun pada 707 dan bertahan dari gempa paling mematikan dalam sejarah Tiongkok — gratis, tenang, dengan setengah dari keramaian Pagoda Angsa Liar Besar.

Selengkapnya →

Gate tower at Daming Palace National Heritage Park
Jika ada waktu

Taman Warisan Nasional Istana Daming

Sejak 634 M, kaisar Dinasti Tang memerintah imperiumnya dari sini — sebuah istana yang luasnya 4,5 kali Kota Terlarang di Beijing, kini hanya menyisakan fondasi, terbaring di sebuah taman yang luas.

Selengkapnya →

Stone steles in Xi'an's Beilin Museum
Sepadan

Hutan Prasasti (Museum Beilin)

Buku-buku batu sejak 1087 — hampir 3.000 prasasti, dan rumah kaligrafi Tiongkok itu sendiri.

Selengkapnya →

On top of Xi'an's Ming city wall
Wajib lihat

Tembok Kota Xi'an

Sebuah persegi panjang dari dinasti Ming sepanjang 14 km yang bisa Anda sepeda di puncaknya — berusia 650 tahun dan masih menjadi rute komuter favorit kota.

Selengkapnya →

Xi'an's Ming Bell Tower lit up at night
Wajib lihat

Menara Lonceng Xi'an

Menara lonceng dari dinasti Ming tahun 1384 ini berdiri persis di pusat kota tua yang dilingkungi tembok — dan paling memukau saat senja, ketika ia menyala terang di atas bundaran.

Selengkapnya →

Huaqing Palace halls and lake at the foot of Mount Li
Sepadan

Istana Huaqing

Abad ke-8, kaisar agung dinasti Tang berendam di mata air panas ini — tempat kisah cinta paling terkenal di Tiongkok berlangsung, sekaligus lokasi peristiwa penculikan 1936 yang mengubah nasib Tiongkok.

Selengkapnya →

Xi'an Drum Tower at the entrance to the Muslim Quarter
Sepadan

Menara Bedug Xi'an

Dibangun tahun 1380, empat tahun sebelum saudari terkenalnya — menara yang bedugnya pernah menutup setiap hari di Xi'an, dan gerbang menuju Kawasan Muslim.

Selengkapnya →